Tingkatkan Kedisiplinan dan Etika Pelayanan, Kabid Kebudayaan Pimpin Apel Pagi di Lingkungan Dikbud

Selasa,22 September 2026 by Azhar Arranirie

MALANG (22/09/2026) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) kembali menggelar rutinitas apel pagi sebagai sarana koordinasi dan penguatan integritas pegawai. Dalam kesempatan kali ini, Kepala Bidang Kebudayaan, Juli Handayani, S.E., M.M., bertindak sebagai Pembina Apel yang diikuti oleh seluruh jajaran pejabat fungsional,  staf,  pengawas,  kepala sekolah,  hingga mahasiswa magang (PKL) di halaman kantor Dikbud.
Dalam amanatnya,  Juli Handayani menekankan tiga poin krusial yang menjadi landasan performa kerja aparatur sipil negara (ASN) dan seluruh keluarga besar dinas, yakni kedisiplinan atribut, penguatan kerja tim, dan kualitas pelayanan publik.

012.jpg 326.39 KB

Disiplin Dimulai dari Hal Kecil Juli mengingatkan bahwa kedisiplinan harus mendarah daging mulai dari hal-hal yang dianggap sederhana, terutama terkait kerapian berpakaian. Ia secara spesifik menyoroti kepatuhan terhadap atribut seragam lengkap, mulai dari topi hingga ketentuan penggunaan sepatu wajib berwarna hitam.

"Kita usahakan untuk mendisiplinkan diri sendiri. Kerapian kita lihat mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aturan mengenai sepatu hitam sudah jelas di dalam list, dan itu harus kita patuhi bersama sebagai bentuk profesionalisme," tegas Juli di hadapan peserta apel.
Sinergi Tim dan Budaya "Anti Lepas Tangan" Menyangkut efektivitas kerja, Kabid Kebudayaan tersebut mengajak setiap bidang untuk mengutamakan kerja sama tim yang solid. Hal ini menjadi sangat penting mengingat beban kerja yang semakin dinamis, salah satunya terkait administrasi pemberian hibah kepada masyarakat atau pokok pikiran (pokir).

013.jpg 526.07 KB

Beliau mengimbau agar tidak ada lagi mentalitas "itu bukan tugas saya" yang berujung pada pengabaian tanggung jawab atau lepas tangan. "Kalau kita sudah menyebut kerja tim, maka kita harus saling membantu dan saling mengingatkan. Jangan sampai ada yang bekerja secara individu atau lepas tangan terhadap tugas yang ada," tambahnya.

Implementasi Budaya 3S dalam Pelayanan Sebagai instansi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, budaya 3S (Senyum, Sapa, Salam) kembali digaungkan. Juli menekankan bahwa keramahan bukan sekadar formalitas, melainkan standar etika yang harus diterapkan oleh semua pihak, termasuk petugas resepsionis dan adik-adik mahasiswa/siswa magang.

Ia juga berbagi pengalaman pribadi mengenai pentingnya berkomunikasi secara sopan dan solutif. Juli mengingatkan agar dalam menjawab pertanyaan masyarakat, pegawai tidak hanya memberikan jawaban yang "singkat dan padat" tanpa memberikan kejelasan.
"Ilmu yang didapatkan adik-adik magang selama PKL di sini harus dibarengi dengan penerapan adab komunikasi yang baik. Jika ada kesalahan, mari kita saling mengingatkan demi menjaga kualitas pelayanan kita kepada masyarakat," tutupnya.

Apel pagi kemudian diakhiri dengan doa bersama untuk kelancaran tugas kedinasan sepanjang hari, sebelum barisan dibubarkan secara tertib untuk melanjutkan aktivitas di unit kerja masing-masing.

Bagikan Juga

Pesan