Home KEBUDAYAAN MUSEUM Museum Mpu Purwa Masterpieces Museum Mpu Purwa 

Masterpieces Museum Mpu Purwa 

  1. Ganesya Bulul/Prasasati Bulul
    Arca Ganesya Bulul ditemukan di kampung Bejisari kelurahan Bunulrejo ketika era Belanda. Sejak awal penemuan, kondisi kepala hingga bahu kanan, dua tangan bagian belakang, juga kedua telapak tangan arca tersebut dalam kondisi rusak. Hal menarik lainnya adalah fakta bahwa Arca Ganesya Bulul merangkap sebagai prasasti. Tulisan beraksara Jawa Kuno tersebut dapat dilihat pada bagian belakang sandaran. Isi dari Prasasti Bulul/Kanuruhan menjelaskan mengenai hadiah tanah sima (perdikan) dari Rakryan Kanuruhan kepada seorang penduduk Kanuruhan yang bernama Bulul karena ia telah merawat dan memperindah taman di desanya (Suwardono&Galeswangi dalam Galeswangi, 2021)
  2. Ganesya Tikus
    Berbeda dengan figur Ganesya yang sering kita jumpai, Arca Ganesya Tikus ini memiliki ukuran yang kecil dengan sehingga nampak lebih lucu, tetapi raut mukanya terlihat tegas. Selain itu, nama arca ini diambil dari kondisi Ganesya yang digambarkan sedang duduk atau menunggangi tikus. Pahatan tikus tersebut dapat dijumpai tepat dibawah kaki Ganesya.
  3. Prasasti Muncang
    Prasasti Muncang merupakan satu koleksi prasasti di Museum Mpu Purwa yang mana ditemukan di Desa Blandit, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Secara fisik, prasasti ini jelas merupakan prasasti batu atau linggo prasasti/upala prasasti karena media penulisannya menggunakan batu andesit. Penulisan prasasti ini menggunakan aksara jawa kuno. Berdasarkan hasil kajian, Prasasti Muncang berisi tentang perintah dari pu Sindok yang memerintahkan Rakryan i halu pu Sahasra dan Rakai Kanuruhan pu Da untuk menjadikan sebidang tanah di selatan pasar di Muncang menjadi sima (tanah perdikan).
  4. Prasasti Dinoyo II
    Batu prasasti ini ditemukan di sekitar pertigaan JL. MT Haryono dengan Gajayana kelurahan Dinoyo Malang pada tahun 1985. Prasasti ditulis menggunakan bahasa dan berhuruf Jawa Kuno. Pahatan tulisan dari prasasti ini sedikit sulit untuk dilihat. Terlebih, terdapat retakan-retakan yang makin mengaburkan tulisannya.
     
  5. Bodhisatwa
    Arca Bodhisatwa Awalokiteswara merupakan arca yang menarik karena memberikan kesan megah. Arca ini memiliki pahatan yang cukup jelas, terlebih dipenuhi dengan ornamen pada bagian kanan dan kirinya. Pada bagian belakang kepalanya terdapat lingkaran kesucian yang berhias pola lidah api. Selain itu, sandarannya yang sekaligus sebagai ‘prabha’ dihias dengan hiasan angsa, makara, dan singa yang kakinya diganti dengan kaki kuda/lembu. Hiasan-hiasan tersebut memiliki makna mengenai ajaran kebijaksanaan, kesucian, dan keberanian (Galeswangi, 2021). Arca yang diduga merupakan arca Bodhisatwa Awalokiteswara ini tidak diketahui dimana awal penemuannya, namun bisa dipastikan bagian dari salah satu relung percandian Budha.
     
  6. Buddha Akshobhya
    Arca Budha Aksobhya dari percandian Singosari ini menggambarkan tokoh Buddha dalam keadaan duduk bersila (padmasana), nampak seperti sedang semadi. Pada lehernya terdapat tiga gurat lipatan yang melambangkan kebahagiaan. Kemudian, posisi tangan kanan bersikap bhumisparsamudra atau menelungkup, sedangkan tangan kiri berada di depan perut dengan telapak menghadap atas (Suwardono, 2003). Diperkirakan bahwa arca ini dibawa ke Malang dan diletakkan di taman Asisten Residen sekitar tahun 1815 s.d. 1820. Meski arca ini berada di area taman museum, kondisi pahatannya tetap terlihat jelas dan halus.
     
  7. Dewi Sri/ Laksmi (Dewi Kesuburan)
    Arca Dewi Sri/Laksmi dikenal pula sebagai Arca Dewi Kesuburan. Secara sekilas, kita menyadari bahwa arca semacam ini kerap dijumpai pada patirtan atau pemandian. Posisi arca dalam keadaan berdiri tegak dengan kedua tangan memegang buah dada yang mana dijadikan sebagai jalan air. Selain selalu berhubungan dengan air/amerta (kesucian), Arca Dewi Sri/Laksmi juga kerap dihubungkan dengan padma atau teratai merah dimana dalam agama Hindu dan Buddha dipercaya sebagai lambang dari kesuburan dan kehidupan (Galeswangi, 2021). 
  8. Siwa Mahaguru/Agastya
    Berasal dari Situs Karang Besuki, dulunya Candi Gasek/Karang Besuki, Arca Siwa Mahaguru/Agastya ini memiliki keistimewaan. Dibandingkan dengan koleksi Arca Siwa Mahaguru lainnya, hanya arca yang terletak vitrin di lantai satu inilah yang menggambarkan sosok Siwa Mahaguru tanpa perut buncit. Keistimewaan lainnya juga terlihat pada kondisi trisula yang menempel pada padma, kondisi rambut yang setengah terurai, bagian tengkuk tidak menempel pada sandaran, serta dipakainya selendang dengan tali ikat yang terhubung dengan kamandalu (Galeswangi, 2021). Arca ini diperkirakan sebagai peninggalan kesenian Kerajaan Kanjuruhan (Suwardono, 2003: 16)
     
  9. Brahma Caturmuka
    Arca ini pernah dilaporkan oleh J. Oey Blom pernah berada di halaman kantor Asisten Residen di Malang. Arca Brahma Caturmuka dipindahkan dari percandian Singosari bersama dengan arca Buddha Aksobhya dan ditempatkan di halaman Asisten Residen. Digambarkan duduk dalam sikap sila tumpang (wirasana). Berkepala (wajah) 4 yang mana masing-masing menghadap ke mata angin. Kepala yang paling belakang bisa dilihat melalui lubang pada sandarannya yang sekaligus menjadi prabhanya. Prabha tersebut dihias dengan hiasan pinggir awan dan lidah api.
     
  10. Singa Stamba

    Arca Singa Stamba sebelum dilakukan proses pengangkatan.
    Kondisi arca saat ini

    Arca Singa Stamba merupakan gambaran seekor binatang ajaib dalam mitologi Hindu Budha. Meski proporsi tubuhnya kurang mirip untuk disebut sebagai singa, bagian rambut yang terurai menjadi salah satu faktor yang memperkuat bahwa arca ini merupakan gambaran singa. Terlebih, mengingat bahwa singa punya hubungan erat dengan mitologi Hindu maupun Buddha. Arca Singa Stamba ini diduga merupakan sebuah tugu monumen karena ukuran dan beratnya cukup besar. Pada bagian perut terdapat angka tahun yang ditulis dalam huruf kwadran (persegi) yang menunjuk pada angka 951 Saka (Pemerintah Kota Malang Dinas Pendidikan dan Pariwisata, 2015). 

Sumber:
Suwardono. (2003). Mengenal Koleksi Benda Cagar Budaya di Kota Malang Seri 1. Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Malang.

Galeswangi, R. H. (2021). Kajian Benda Cagar Budaya di Museum Mpu Purwa Kota Malang. Pemerintah Kota Malang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan . 

Pemerintah Kota Malang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. (2015). Mengenal Koleksi Museum Mpu Purwa dan Situs-situs di Kota Malang.

Galeswangi, R. H. (2021). Kajian Arca Agastya Bertubuh Ramping Koleksi Museum Mpu Purwa Kota Malang. Berkala Arkeologi, 41(1), 35–54. https://doi.org/10.30883/jba.v41i1.603.